Minggu, 27 Januari 2013

Kumpulan Artikel Bisnis



1.           KUMPULAN ARTIKEL BISNIS

 

Pemimpin Perusahaan yang Tangguh

Muhammad Subair
Pengusaha Muslim, Pemilik Guyub Teknologi Nusantara
Semua pekerjaan, besar maupun kecil, harus dilakukan oleh orang yang tepat. Istilah populernya, right man in the right place. Rasulullah SAW beberapa abad yang lampau telah mengingatkan, “Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak memiliki kapasitas untuk mengembannya), maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR al-Bukhari)
Pemimpin memegang kendali terhadap apa yang dipimpinnya. Dan di tangan pemimpin, masa depan perusahaan dan seluruh stake holdernya ditentutan. Seorang pemimpin perusahaan yang ideal, harus mempunyai kapabilitas dan profesionalitas.
Dan sudah begitu banyak buku manajemen maupun psikologi karya para ahli, mencoba merumuskan karakteristik pemimpin perusahaan yang tangguh dan efektif. Dalam buku The 7 Habits of Highly Effective Person (1989), Stephen R Covey menguraikan beberapa kriteria pemimpin organisasi yang efektif. Yaitu:
Pertama, mau terus belajar. Pemimpin harus menganggap seluruh hidupnya sebagai rangkaian dari proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan pengetahuan dan wawasannya.
Kedua, berorientasi pada pelayanan. Pemimpin yang baik, akan melihat kehidupannya sebagai misi, bukan karir. Ukuran keberhasilannya adalah bagaimana ia bisa menolong dan melayani orang lain. Karena dasar kepemimpinannya adalah kesediaan untuk memikul beban orang lain.
Ketiga, memberikan energi positif. Energi yang dipancarkan ini akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Sehingga pemimpin berkarakter ini dapat tampil sebagai juru damai dan penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energi destruktif menjadi positif.
Keempat, mempercayai orang lain. Dengan mempercayai orang lain, maka pemimpin dapat menggali dan menemukan kemampuan tersembunyi dari pekerjanya.
Kelima, memiliki keseimbangan hidup. Pemimpin efektif merupakan pribadi seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, bijak, tidak gila kerja dan menjadi budak rencana-rencana sendiri.
Keenam, jujur pada diri sendiri. Sikap ini ditunjukkan dengan sikap mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan, sebagai hal yang berjalan berdampingan dengan kegagalan.
Ketujuh, mau melihat hidup sebagai sesuatu yang baru. Pemimpin seperti ini akan memiliki kehendak, inisiatif, kreatif, dinamis dan cerdik bersikap.
Kedelapan, memegang teguh prinsip. Ia tak akan mudah dipengaruhi, namun untuk hal-hal tertentu ia dapat bersifat luwes penuh harus kompromi.
Kesembilan, sinergistik. Pemimpin harus menjadi katalis perubahan. Sehingga setiap situasi yang dimasukinya, selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena ia selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif.
Kesepuluh, selalu memperbaharui diri. Pemimpin harus bersedia secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia. Yaitu fisik, mental, emosi, dan spiritual, untuk memperbarui diri secara bertahap.
Sedangkan Warren Bennis (Managing People is like Herding Cats, 1997) mensyaratkan beberapa karakteristik sebagai pemimpin perusahaan yang tangguh:
Pertama, pengenalan diri. Pemimpin yang tangguh pasti mampu mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Ia akan sering menggunakan jasa pihak lain untuk memberi masukan dan pemahaman atas kepribadiannya. Dengan bekal pemahaman atas dirinya, ia dapat bergerak maju memperbaiki kekurangan, dan melesat jauh bersama kelebihannya.
Kedua, terbuka terhadap umpan balik. Pemimpin yang efektif akan mengembangkan sumber-sumber umpan balik yang bervariasi dan berharga mengenai perilaku dan kinerja dirinya. Ia cenderung memiliki gaya yang terbuka. Dalam proses pembelajaran itu, ia akan menjadi sangat reflektif terhadap apa yang dikerjakannya, kendati itu dapat membuat dirinya rawan terhadap kritik.
Ketiga, pengambil resiko yang selalu ingin tahu. Kebanyakan pemimpin adalah petualang, pengambil risiko, dan selalu ingin tahu, bahkan sangat ingin tahu. Mereka tampak mampu mengambil resiko sangat besar dan membiasakan dirinya selalu terlibat dalam situasi berbahaya. Hampir selalu terjadi, para pemimpin besar mengalami kemunduran, krisis, atau kegagalan dalam kehidupan mereka.
Keempat, konsentrasi pada pekerjaan. Pemimpin yang tangguh adalah orang yang walau berkemampuan kecil dalam hubungan antarpribadi, tapi memiliki tingkat konsentrasi yang luar biasa. Matanya tajam fokus pada pekerjaan, perusahaan, sasaran-sasaran, dan misi-misinya.
Kelima, menyeimbangkan tradisi dengan perubahan. Alfred North Whitehead pernah mengatakan, pemimpin efektif harus memiliki keterikatan, baik dengan budaya maupun kebutuhan perbaikan dan perubahan.
Keenam, bertindak sebagai model dan mentor. Pemimpin yang tangguh akan bangga menjadi mentor, dan merasa menang ketika berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Ia akan menghargai kemenangan itu dengan menjadikan seluruh periode kehidupan sebagai proses belajar, dan memanfaatkan semua pengalaman secara didaktik.
Selain dua rumusan karakteristik di atas, masih banyak lagi rumusan ciri dan karakteristik pemimpin perusahaan yang tangguh dan efektif. Enterprising Nation (1995) mensyaratkan untuk menjadi pemimpin perusahaan yang tangguh harus memiliki delapan kompetensi. Yaitu: people skills, strategic thinker, visionary, flexible and adaptable to change, self-management, team player, ability to solve complex problem and make decisions, dan ethical/high personal standards.
Sedangkan American Management Association (Eighteen Manager Competencies, 1998) menuliskan 18 kompetensi yang harus dimiliki manajer tangguh. Yaitu: efficiency orientation, proactivity, concern with impact, diagnostic use of concepts, use of unilateral power, developing others, spontaneity, accurate self-assessment, self-control, stamina and adaptability, perceptual objectivity, positive regard, managing group process, use of sosialized power, self-confidence, conceptualization, logical thought, dan use of oral presentation.
Prinsip Kriteria Islam
Target konsep-konsep modern di atas, terlihat hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia. Sementara Islam telah memberi solusi lebih dari itu, agar yang kita kerjakan juga dapat menghasilkan keuntungan akhirat, di samping dunia.
Sebagai agama yang komprehensif dan lengkap mengatur segala aspek kehidupan manusia, Islam memiliki prinsip-prinsip mendasar yang secara khusus mengatur penjabaran visi, misi, kewajiban, fungsi, tugas, wewenang, tanggung jawab manusia di muka bumi. Tak terkecuali dalam memimpin perusahaan.
Setiap pribadi yang mendapat amanah sebagai pemimpin, harus mampu terus memegang prinsip-prinsip Islam (Qs. al-Baqarah [2]: 208). Dan Islam telah memberikan konsep dan prinsip yang lengkap dan sempurna untuk membentuk pemimpin yang ideal. Yaitu:
Pertama, prinsip ibadah. Seorang pemimpin pada hakikatnya adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Maka sudah seharusnya seluruh amal perbuatannya didasarkan pada tujuan utama ikhlas mencari ridha-Nya (Qs. adz-Dzâriyat [51]: 56, dan an-Nisâ` [4]: 36).
Kedua, prinsip amanah. Pemimpin yang mengaku beriman dan Islam, harus menjalankan dua jenis amanah yang dibebankan kepadanya. Yaitu amanah dari Allah dan Rasul-Nya, berupa kewajiban untuk menjalankan segala perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi segala larangan Allah dan Rasul-Nya. Serta amanah dari manusia, yang meliputi berbagai hal yang menyangkut hajat hidup manusia sehari-hari. Baik dalam urusan pribadi, maupun urusan bersama.
Setiap individu yang mendapat amanah dari manusia untuk memimpin, mendapat beban amanah untuk mengurus, mengatur, memelihara dan melaksanakan kewajiban itu secara baik dan benar (Qs. al-Anfâl [8]: 27-28, dan ayat-ayat lainnya yang bermakna sama).
Ketiga, prinspip ilmu dan profesionalitas. Prinsip ilmu maksudnya semua pekerjaan harus dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan (Qs. al-Isrâ` [17]: 36). Imam Syafi’i mengatakan, “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan kedua-duanya, maka hendaklah dengan ilmu.” (Al-Majmû’ Imam an-Nawawi).
Keempat, prinsip keadilan. Allah Maha Adil dan sangat mencintai keadilan. Dia telah banyak emberi perintah manusia untuk berbuat adil (seperti Qs. an-Nisâ` [4]: 135, dan al-A’râf [7]: 29).
Kelima, prinsip etos kerja/kedisiplinan. Islam adalah agama yang mengajarkan kerja keras dan usaha, di samping berdoa. Karena Allah tak akan merubah suatu kaum, selain mereka merubahnya sendiri (Qs. al-Anfâl [7]: 53). Manusia juga diperintahkan untuk mencari karunia Allah (Qs. al-Jumu’ah [62]: 10). Lalu diperintahkan untuk tidak pasrah (Qs. al-Qashash [28]: 77).
Keenam, prinsip akhlaqul-karîmah, seperti diteladankan Rasulullah (Qs. al-Qalam [68]: 4). Allah telah menyampaikan, jika manusia ingin memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat agar mencontoh dan meneladani akhlak beliau (Qs. al-Ahzâb [33]: 21).
Bahan Bacaan:
Stephen R Covey, The 7 Habits of Highly Effective Person, 1989
Warren Bennis, Managing People is like Herding Cats, 1997
American Management Association, Eighteen Manager Competencies, 1998

 


Mewujudkan Pikiran Gila

RHR Dodi Sarjana
Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru
STEREOTIP. Istilah ini tentu tak asing lagi di telinga kita. Kepercayaan bahwa seluruh anggota kelompok tertentu memiliki sejumlah karakteristik yang sama, dianggap sebangun dan homogen, sudah sejak lampau diyakini banyak orang.
Di kalangan orang asing misalnya, dalam kajian psiko-sosial ada semacam konsensus bahwa orang Jerman pandai di bidang teknik, sementara orang Irlandia agak tumpul pemikirannya, dan semua wanitanya emosional. Orang Perancis sangat romatis, sedang orang Negro kurang bertangungjawab. Itulah contoh stereotip.
Siapapun dan apapun yang keluar dari stereotip, dianggap aneh dan nyleneh. Ia menjadi tidak umum dan cenderung dihindari banyak orang. Dari sinilah, awal manusia terjebak dalam prasangka-prasangka buruk terhadap apa saja.
Dalam perspektif social cognition, pakar psikologi sosial Russell Spears menyebutkan, manusia berhadapan dengan realitas sosial yang kompleks, sehingga memiliki kecenderungan membagi sesuatu dalam kategorisasi atau kelompok untuk menyederhanakan persoalan.
Stereotip mendorong manusia menjadi pelit dan malas berpikir, sehingga beresiko banyak menuai kesalahan dalam penyimpulan. Namun stereotip tetap dipakai karena menghemat energi. Sungguh ini pendapat yang menyesatkan.
Dalam bisnis, kecenderungan stereotipisasi juga membudaya. Orang maunya sesuai pakem saja. Asumsi-asumsi menggiring pebisnis pada pemahaman bahwa informasi, kegiatan bisnis yang stereotip selama ini, dianggap lebih cepat diproses dan direspon pasar. Benarkah demikian?
Kita semua pasti mengenal baik nama Tirto Utomo dengan bisnis Aqua-nya atau Sosro dengan teh botolnya. Bisnis mereka, pada awalnya diangap bisnis gila karena menyimpang dari stereotip. Di luar kebiasaan, mereka membisniskan barang yang umum, tapi tak umum. Tapi siapa sangka, air yang melimpah ruah di alam semesta menjadi “semahal” emas. Teh yang biasanya diminum tak lama setelah diseduh, menjadi nikmat disimpan berlama-lama di botol.
Konon, perilaku Tirto dan Sosro pernah dianggap lelucon bisnis yang absurd. Namun kini, orang berduyun-duyun mengikutinya. Dan ketika orang mengalami euphoria, barangkali kedua orang perintis itu sudah lari lagi dengan konsep gilanya yang lain.
Contoh ide gila yang lain adalah larutan penyegar Cap Kaki Tiga. Produk yang berisi semacam air ini juga terbilang absurd. Tapi lihatlah “khasiatnya”, ia mampu mengusir panas dalam. Buntutnya, kemasan air itu juga laris bak kacang goreng.
Psikolog dunia Sigmund Freud dengan teori psikoanalisanya mengemukakan, dalam diri setiap manusia sebenarnya terdapat syaraf-syaraf impulsif yang mendorong manusia untuk berbuat dan beraktivitas. Dorongan kuat syaraf ini bisa membuat manusia ‘gila’ dan mewujudkan aktivitasnya dengan amat sangat inovatif plus kreatif.
Selama ini perjalanan waktu telah membuktikan bahwa bisnis “orgil” (baca: orang-orang dengan ide gila) tahan segala cuaca. Tak tergerus krisis, pasar bebas dan reaganisme. Ia tak takut apapun, karena punya banyak amunisi inovasi untuk ditembakkan menjawab perubahan zaman.
Menyiasati perubahan tren kehidupan dan tren bisnis, tak cukup hanya dengan pakem yang ada. Atau hanya mengandalkan jalinan stereotipisasi yang sudah mapan. Perlu menggali sesuatu yang lain, yang selama ini luput dari perhatian orang. Apa kira-kira itu? Berpikirlah “gila” supaya ide gila seperti milik Tirto, Sosro dan Kaki Tiga bisa lahir.
Menciptakan sesuatu yang berbeda dan baru, selalu mampu membuat orang terhenyak untuk melirik dan mencoba produk kita, ketimbang melakukan “penyeragaman” dengan maksud mengekor sukses produk yang suda ada.

 

Memulai Usaha dengan Mimpi

Islahuddin
Suasana penuh keakraban terlihat pada acara launching Young Enterpreneurshiop Start Up (YES) Club Jakarta, Maret lalu di gedung Design Center Jakarta. Walau acara itu baru digelar di hari pertama, para peserta yang berjumlah sekitar 25 orang nampak akrab berinteraksi. Sesi terakhir yang banyak diisi tanya-jawab, pun menjadi ajang yang sangat meriah. Pada sesi itu, masing-masing peserta diberi waktu melontarkan usaha yang telah mereka rintis, dan cita-cita mereka sebelumnya.
Suasana seperti ini sangat disyukuri Direktur YES Club Jakarta, Himawan Adibowo. “Yes Club belum berumur satu hari, tapi rupanya sudah terbentuk kerja sama bisnis di dalamnya,” ujar Himawan sambil tersenyum.
Dari peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa itu, tak satupun mempunyai usaha berskala besar. Bisa dibilang rata-rata hanya bermodalkan nekat. Azuz Saputra misalnya, mahasiswa semester enam Jurusan Manajemen di School of Bussines and Management (STIEKPI), selain mau belajar, ia juga harus menjauhkan gengsi untuk memulai dan menggeluti usahanya.
Saat ini, bersama seorang rekannya, Azuz sukses menjadi distributor kentang goreng kemasan di areal kampusnya. Menurut Azuz, sudah bukan saatnya lagi masyarakat menilai suatu pekerjaan itu bergengsi atau tidak. Karena yang terpenting adalah bagaimana bisa terus berusaha dan menghasilkan uang sendiri.
Memang diakuinya, bahwa usaha yang ia jalani sejak tiga bulan lalu itu sangat kecil. Hanya bermodal awal 80 ribu rupiah yang ia belanjakan untuk membeli 40 bungkus kentang goreng kemasan, saat itu ia sanggup menjualnya habis dalam tempo empat hari. Kini, setiap bulan Azuz minimal mampu mengantongi laba 800 ribu rupiah.
Jumlah rupiahnya memang kecil, tapi bagi Azuz yang penting adalah bagaimana menumbuhkan keberanian untuk berusaha, dan memutus ketergantungan pada orangtua. Ia berharap, pengalaman menjadi distributor kecil-kecilan ini menjadi modal untuknya kelak menjalani bisnis yang lebih besar.
Tidak Memilih Rezeki
Dari cerita dan pengakuan yang dipaparkan para peserta Yes Club, terbukti bahwa modal nekat, tahan malu, dan berkhayal, telah banyak mengantarkan para pengusaha untuk memapak sukses dari nol.
Farry Iskandar juga membuktikannya. Sebelum menjadi pengusaha alat-alat petualangan yang dipasarkan secara online, Ferry bekerja sebagai karyawan di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Walau gaji tak besar, bekerja di LSM membuat Ferry nyaman mendapat penghasilan tetap.
Suatu ketika, Ferry memutuskan berhenti menjadi karyawan dan memilih membuka usaha sendiri. Keputusan itu tentu disayangkan banyak rekan dan kerabatnya. Apalagi di masa awal usaha, Ferry sering menggelar dagangan di emperan jalan sekitar kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta setiap Minggu pagi.
Belum lagi tekanan mental yang harus dirasakan Ferry akibat anggapan miring masyarakat yang menilai bekerja di kantor lebih terhormat daripada berdagang di emperan jalan. “Masa awal memulai usaha sangat menyedihkan. Banyak yang menganggap pekerjaan ini sebelah mata,” ujar Ferry.
Pada 2004, bermodal uang delapan juta rupiah di tangan, Ferry jalankan usaha dengan keyakinan bahwa itulah satu-satunya pilihan terbaik untuk meningkatkan penghasilan dirinya. Apalagi saat itu ia sudah ingin berumahtangga, yang ia sadari, kelak tentunya ia butuh penghasilan lebih tiap bulannya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Tak keliru Ferry memilih jalan hidupnya. Saat ini terbukti ia bisa menikmati limpahan keuntungan hasil usaha dan buah strategi dirinya untuk terus berjuang dan tak memilih-milih rezeki. Meski banyak perusahaan besar yang bergerak di bidang yang sama, namun Ferry tak gentar. Karena mereka jarang melayani partai eceran, apalagi via online seperti yang ia lakukan.
Kini usahanya perlahan berkembang, tak kenal lelah ia terus berupaya membesarkannya lagi. ”Sampai sekarang, saya masih terus berjuang menggapai mimpi yang besar,” tandas Farry.
Usaha Tiada Henti
Kisah serupa namun tidak sama juga dialami Edi Kurniawan, mantan karyawan sebuah perusahaan otomotif di wilayah Tangerang. Suatu ketika, komunitas Tangan di Atas (TDA) menggelar kegiatan magang yang disebut TDA Apprentice.
Walau kegiatan magang berskala tiga bulan itu tidak memberinya gaji ataupun uang transport, namun berkat keinginan untuk belajar dan menggali ilmu menjadi pengusaha, Edi berani memutuskan untuk meninggalkan kemapanan hidup sebagai karyawan.
Saat itu peserta magang berjumlah sepuluh orang, yang ditempatkan di stan milik Haji Alay di kawasan grosir Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun hanya dua orang yang sanggup mengikutinya sampai akhir, salah satunya adalah Edi. Selama magang, Edi memperhatikan adanya celah menjanjikan dari prospek bisnis online. Maka selepas magang, ia memilih usaha jual beli pakaian bayi usia tiga tahuan ke bawah secara online. Dan pengetahuan tentang dunia garmen yang ia dapat selama magang, sangat membantu perkembangan usahanya.
Edi memiliki alasan kuat mengapa ia bersikeras beralih profesi menjadi pengusaha. Karena ia sangat yakin, bahwa dunia usaha tak ada matinya, selama orang mau berusaha. Keyakinan itu semakin besar ketika Haji Alay, yang merupakan saudagar sukses di Tanah Abang, memotivasinya. Haji Alay sering menekankan, bahwa uang berserakan di mana-mana, dan terus berputar selama 24 jam. Dengan sepuluh tangan sekalipun, kita tak akan sanggup memunguti semua serakan itu, kecuali kita mengetahui caranya.
Jerih payah yang dimulai sejak dua tahun itu kini telah menuangkan hasil. Selain bergerak di bisnis online, Edi juga telah mempunyai dua buah toko di Gedung Jakarta City Center (JaCC). Omset rata-rata perbulan yang ia dapat bisa mencapai 100 juta rupiah, dengan 70-80% berasal dari penjualan online.
Menurut Edi, dua tahun bukanlah waktu yang lama. Namun selama itulah kemampuan seseorang untuk bertahan dalam berusaha ditentukan. Salah perhitungan memang sempat dirasakan Edi, namun itu ia jadikan sebagai ilmu yang tak ternilai, yang ia jaga agar tidak kembali terulang di masa mendatang.
Belajar dari Mimpi
Sementara itu, Atik Wahyu Naryati pengusaha budidaya jamur, kini telah menuai hasil jerih payahnya. Atik yang memulai usaha di akhir 2005 lalu, pada pertengahan 2006 saja sudah menuai hasil yang cukup signifikan, dan usahanya berkembang kian stabil. Bermodal awal hanya enam juta rupiah di tangan, kini setiap bulan Atik menuai sekitar 5-10 juta rupiah keuntungan.
Di bawah bendera CV Fanindo Multi Farm, berbagai jenis jamur kini ia budidayakan. Agar bisa diedarkan ke berbagai tempat dengan mudah, ia kemas bahan dagangannya dalam bentuk jamur kering. Karena keberhasilannya itu, banyak orang dari berbagai daerah datang kepadanya untuk belajar. Dengan tangan terbuka Atik menerimanya.
Kisah sukses juga ditorehkan Masbukhin and Nuni. Pasangan harmonis lulusan Universitas Brawijaya Malang ini, memulai bisnis telepon seluler sejak 2003 lalu. Mereka berdua mendobrak kemapanan tradisi para sarjana yang biasanya lebih memilih berpakaian necis dan menjadi karyawan kantoran.
Masbukhin and Nuni kini sukses memiliki beberapa outlet grosir di Pulogadung Trade Center dan tempat-tempat lain di Jakarta. Seluruhnya tergabung di bawah payung PT Prima Prada Cellular (PCC) yang mereka dirikan.
Bermodal mimpi ingin menjadi sukses, awalnya mungkin banyak dicemooh orang sekitar. Namun jika ingin menjadi pengusaha sukses, modal nekat merupakan salah satu hal yang harus dimiliki.
Hal ini sangat tegas diakui pengusaha sukses Martha Tilaar. Jatuh bangun usaha yang dilakukan ikon kecantikan Indonesia sejak awal dekade 70-an itu, kini terlihat hasilnya. Usahanya terus menggurita. “Jika ingin menjadi pengusaha, kita harus berani untuk nekat, dan menggantungkan mimpi setinggi langit,” tegas Martha.

 

Langkah Awal Memulai Bisnis

AR Junaedi
Pengelola bisnis ritel busana dan transportasi internasional, tinggal di Jakarta.
Suatu ketika, Ria, seorang mahasiswi tingkat akhir dan sebentar lagi lulus di salah satu universitas ibokota, berkonsultasi kepada saya melalui blog pribadi saya. “Bapak, saya sangat termotivasi dan ingin membuka usaha. Karena menurut saya, bidang ini adalah yang terbaik daripada saya susah2 mencari kerja. Dari dulu, saya punya mimpi suatu saat saya ingin menciptakan lapangan kerja untuk orang-orang di sekitar saya. Dan jawabannya saya temukan, yaitu dengan merintis usaha. Tapi, saya saat ini masih belum percaya diri dan punya cukup keberanian untuk memulainya. Mengingat saya juga masih akan memulai terjun di dunia kerja.”
Senang sekali mendengar mengakuan tulus seorang mahasiswa yang ingin memulai usaha sendiri, di kala banyak teman-temannya justru berebut ingin menjadi karyawan. Walau memang, tak ada yang salah dengan karyawan, tapi saat ini Indonesia justru sedang butuh lahirnya banyak entrepreneur untuk menguatkan kemandirian bangsa ini.
Untuk menjawab pertanyaan Ria di atas, hal apa yang harus dipersiapkan untuk merintis usaha? Jawaban simpel: Mulai saja! Ya, mulai saja. Biasanya, kalau kita memikirkan persiapan, akan semakin lama kita akan dapat memulai sesuatu. Bukankah kita memang paling ahli untuk menunda dengan beribu alasan yang menurut kita masuk akal?
Karenanya, tak perlu menunggu mental kuat untuk melangkah. Karena mental justru akan terasah ketika kita sudah memulai dan langsung bergelut dengan usaha. Tidak perlu juga menunggu sampai punya percaya diri (Pede). Karena Pede pun terbentuk dengan terjun langsung di bisnis tadi.
Ada seorang sahabat sangat ingin membuka bisnis apotik. Sudah dengan perhitungan modal untung rugi yang matang, tanya kana-kiri pada ahli, dan sudah melihat-lihat lokasi, tapi ia tidak juga memulai. Itu ia lakukan setahun lalu. Sekarang, apa yang terjadi? Masih tidak ada perubahan. Karena ia tidak juga memulai usahanya dengan berbagai alasan. Excuse. Akibatnya, tempat-tempat yang ia incar dulu untuk lokasi apotik, sekarang sudah diisi oleh apotik orang lain. Orang yang berani bertindak.
Seperti orang yang ingin pergi ke Bandung, sahabat saya itu tak pernah sampai Bandung karena tidak ada langkah pertama. Ia sibuk berecana, mencari peta, belajar mendalami Kota Bandung. Selama ia tidak mulai melangkah, tentunya tak akan mungkin ia sampai ke kota tujuan.
Namun, bagi yang berani memulai perjalanan, meski tidak tahu jalan sama sekali, ia akan tetap sampai. Dalam perjalanannya, memang bisa saja ada berbagai kendala dan hambatan. Tapi dengan tetap konsisten berjalan dan jelasnya tujuan, ia pasti akan sampai. Bahkan ia bisa menemukan jalan pintas. Jadi, mulailah segalanya dari yang kecil, fokus dan tetap pada impian kita.
Motivasi Diri
Agar perjalanan kita bisa sampai ke tujuan yang kita impikan, ada beberapa tahapan yang sering digunakan sebagai dasar pemikiran dan kegiatan Komunitas Tangan di Atas (TDA):
Pertama, pray (berdoa). Sebelum memulai aktivitas apapun, menghadaplah pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kaya, Sang Maha Menentukan. Tundukan hati dan mintalah petunjuk-Nya, agar pilihan-pilihan yang kita ambil makin mendekatkan pada mimpi kita dengan jalan yang baik. Karena jalan Tuhan adalah jalan kebaikan.
Sering kali kita lupa. Kita menghadap Allah, hanya di saat susah atau “mentok” saja. Tidak salah memang, karena Allah pasti menerima kita dalam kondisi apapun. Namun, alangkah indahnya bila saat kita memulai perjalanan ditemani oleh Sang Maha Kasih, yang akan akan Menjaga dan Memberikan hasil terbaik untuk kita. Allah pasti tak akan membiarkan hamba-Nya yang sungguh-sungguh berikhtiar tanpa balasan berlimpah. Berdoalah, pasti akan Allah kabulkan.
Kedua, reason (alasan yang kuat). Miliki alasan yang kuat, mengapa kita harus berhasil dalam bisnis. Alasan yang bersifat personal. Bisa dengan menciptakan “surga” dan “neraka”. Maksudnya, surga: mencari alasan terkuat yang bisa membuat bahagia diri kita, ibu, bapak, saudara atau orang yang kita cintai.
Misalnya, kita ingin memberangkatkan orangtua kita beribadah haji. Bayangkan dan rasakan kebahagiaan wajah ibunda dan ayahanda yang bisa berangkat ke tanah suci berkat hasil kerja keras kita. Bayangkan rasa bangga mereka melihat keberhasilan bisnis kita, yang bisa mengantarkan mereka menunaikan kewajiban sebagai muslim itu.
Atau banyak alasan lainnya untuk menciptakan “surga”. Seperti yang keinginan menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang, seperti yang diinginkan Ria di atas. Bayangkan itu sudah terjadi, dan rasakan kebahagiaan karyawan kita ketika bekerja dan menerima penghasilan dari lapangan kerja ciptaan kita. Semua itu tentu akan menjadi alasan kuat yang akan mendorong kita untuk bekerja dengan segenap tenaga dan konsisten mencapai yang kita inginkan.
”Neraka”, yaitu dengan membuat alasan terkuat -yang juga bersifat personal-, yang bila kita tidak berhasil, maka diri kita sendiri atau orang yang kita cintai akan menderita.
Beberapa waktu lalu, ketika saya berkunjung ke rumah sakit, ada sebuah keluarga yang sedang berkumpul, merundingkan apakah ayah mereka yang sedang sakit berat akan tetap masuk ruang ICU dengan biaya mahal, atau dibawa pulang saja dengan resiko fatal, karena ketiadaan biaya.
Tentu kita tak ingin hal itu terjadi pada keluarga kita. Kita pasti ingin memberi perawatan terbaik untuk orang yang kita cintai. Keadaan sulit bagaikan neraka seperti itu, bisa menjadi alasan sangat kuat mengapa kita harus berhasil.
Jadi, cobalah mencari tahu: What is your self emosional burning desire to make you consistance in action? Apa landasan emosional diri Anda yang akan membangun keinginan untuk membuat Anda konsisten melakukan sesuatu. Dengan alasan yang bersifat personal dengan melibatkan emosi diri, kita akan lebih bersungguh-sungguh, ketimbang alasan yang bukan dari dalam diri.
Ketiga, belief (sikap mental). Keyakinan yang tertanam dalam diri kita, akan menentukan pola pikir dan membentuk karakter diri dalam merespons setiap hal yang terjadi.
Belief sudah tertanam dalam diri kita sedari kecil. Keyakinan yang keliru, yang bisa saja sudah melekat dalam diri kita, akan menghambat kemampuan kita yang sebenarnya luar biasa. Contoh, ada orangtua lebih bangga anaknya setelah lulus kuliah, mendapat pekerjaan di perusahaan besar. Atau menjadi pegawai negeri ketimbang menjadi wiraswasta.
Belief seperti ini, akan membuat pola pikir kita mengarahkan kita untuk mengesankan, bahwa wiraswasta bukan hal yang bisa menjadi jalan kesuksesan kita. Menjadi pengusaha, digambarkan bagai sesuatu yang sulit. Banyak resiko. Bidang itu hanya spesial untuk orang yang punya darah pengusaha. Dan berbagai keyakinan lain yang sebenarnya masih perlu dibuktikan kebenarannya.
Belief seperti ini bisa gantikan dengan keyakinan yang baru. Caranya, dengan membuka lagi wawasan kita dengan bergaul bersama orang sukses. Atau lakukan ATM (Amati, Tiru, lalu Modifikasi) jejak rekam kesuksesan para pengusaha. Nantinya, belief yang menghambat di atas, akan tergantikan dengan belief yang membangun.
Disamping itu, kita perlu mereset ulang keyakinan, dan kembali meyakini bahwa kita bisa sukses. Memang, ada kemungkinan kita untuk gagal. Tapi mengapa kita tidak berfokus pada kemungkinan kita akan berhasil?
Thought become thing. Apa yang Anda pikirkan akan menjadi kenyataan. Apa yang Anda yakini: Anda bisa atau Anda tidak bisa, adalah benar.

 


Kumpulan Artikel Agama



 

1.        KUMPULAN ARTIKEL AGAMA

 

Doa Sebagai Obat

Prof Dadang Hawari
Dosen Pascasarjana Fakultas Psikologi Uiversitas Indonesia, Penulis Buku
Matthews (1996) dari Universitas Georgetown, Amerika Serikat melaporkan, dalam pertemuan tahunan The American Association for the Advancement of Science (1996) tercuat ide bahwa mungkin suatu saat kelak, tugas para dokter bukan lagi hanya menuliskan resep obat, tapi juga menuliskan doa dan dzikir pada kertas resep sebagai pelengkap.
Sebab, dari 212 studi yang telah dilakukan oleh para ahli sebelumnya, ditemukan 75% responden menyatakan bahwa komitmen agama (berdoa dan berdzikir) berpengaruh positif pada kesehatan pasien. Hanya 7% yang berkesimpulan tidak. Selanjutnya dikemukakan, manfaat terapi keagamaan ini sangat baik, terutama bagi penderita NAZA (narkotika, alkohol, zat adiktif), depreso, kanker, hipertensi, (tekanan darah tinggi) dan penyakit jantung.
Ada pula survei yang dilakukan oleh Majalah Time, CNN, dan USA Weekend (1996), menyingkap lebih dari 70% pasien percaya bahwa keimanan terhadap Tuhan, doa dan dzikir dapat membantu mempercept proses penyembuhan penyakit. Sementara lebih dari 64% menyatakan agar para dokter hendaknya juga memberikan terapi keagamaan (terapi psikoreligius), antara lain dalam bentuk doa dan berdzikir. Penelitian ini mengungkap kebutuhan para pasien kepada terapi keagamaan, selain terapi obat-obatan dan tindakan medis.
Synderman (1996) juga pernah melakukan penelitan tentang hubungan komitmen agama dan ilmu pengetahuan (terapi medis) untuk mendukung temuan-temuan sebelumnya. Kesimpulan yang didapatnya, terapi medis tanpa disertai doa dan dzikir tidaklah lengkap. Sebaliknya pula, doa dan dzikir tanpa disertai terapi medis, juga tidak efektif.
Christy (1998) dalam penelitian berjudul Prayer as Medicine, mendukung kesimpulan penelitian pendahulunya (Snyderman) dan menyatakan bahwa doa dan dzikir juga merupakan “obat” bagi penderita, selain obat dalam pengertian medis. Ia menyimpulkan, “medicine” (obat) yang diberikan kepada penderita mengandung dua arti. Yaitu “prayer” (doa) dan “drugs” (obat/pil). Drugs yang dimaksud di sini adalah medicine dan bukan NAZA.
Dari hasil-hasil penelitian-penelitas di atas, dapat disimpulkan bahwa komitmen agama berhubungan dengan manfaat bidang klinik (religius commitment is associated with clinical benefit). Dan pendapat Snyderman (1996) benar adanya, bahwa terapi medis saja tanpa disertai doa dan dzikir tidaklah lengkap. Sedangkan doa dan dzikir tanpa disertai terapi medis juga tak akan efektif.
Dalam ajaran agama Islam, seseorang yang sedang menderita penyakit fisik maupun psikis (kejiwaan), diwajibkan untuk berusaha berobat kepada ahlinya (dokter/psikiater), disertai dengan berdoa dan berdzikir (HR. Muslim, Ahmad, dan at-Tirmidzi).
Sebagai ilustrasi, dalam sebuah hadits disebutkan, suatu hari Rasulullah SAW kedatangan seorang Sahabat yang mengadu bahwa anaknya yang sakit dan tak kunjung sembuh. Padahal ia sudah banyak mengerjakan shalat, berdoa, berdzikir dan berpuasa, agar anaknya lekas sembuh. Nabi bertanya kepada Sahabat itu, apakah anaknya sudah dibawa ke tabib (dokter). “Belum,” jawab Sahabat itu. Kemudian Nabi menasehati agar segara mengobati anaknya itu kepada ahlinya (tabib/dokter), disertai dengan doa dan dzikir. Tak lama setelah berobat, anak itu pun sembuh.
Dapat ditarik kesimpulan, terapi secara ilmu pengetahuan (terapi medis) dan terapi keagamaan (doa dan dzikir) hendaknya dilakukan bersama-sama. Karena, Allah dan Rasul-Nya memang telah memerintahkan demikian. “Aku mengabulkan permohonan yang mendoa apabila berdoa kepada-Ku.” (Qs. al-Baqarah [2]: 186) “Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah sepanjang waktu.” (HR Aisyah RA).

 


Hindari Bakat Instan

Yayah Hidayah MPsi
Akhir-akhir ini, kita tengah dicekoki banyaknya ajang pencarian bakat ala “idol-idol”an maupun lomba-lomba. Dari lomba menyanyi, pemilihan bintang, dan sebagainya. Proses instan pencarian bakat-bakat segar industri musik dan hiburan di tanah air ini, sering mengesampingkan dampak dari pola yang serba instan itu.
Dengan acara seperti ini, remaja dan anak-anak akan semakin banyak yang bercita-cita menjadi penyanyi dan bintang sinetron. Mereka berpikir, dengan ikut audisi, bergaya, bernyanyi, dan bantuan sms dari pemirsa TV, ditambah sedikit keberuntungan, mereka akan langsung tenar dan menjadi juara.
Padahal seharusnya, remaja dan anak diberi stimulus proses berpikir dengan porsi lebih besar. Seperti melalui lomba matematika, fisika, karya ilmiah atau lomba-lomba penelitian lainnya.
Dalam pencarian bakat, semestinya dilakukan dengan proses alami. Karena, dengan proses yang terlalu singkat atau pendek, akan sulit untuk menilai keberhasilan yang sebenarnya. Anak yang berhasil dengan proses ini, biasanya akan cepat putus asa, cengeng dan bermental kurang kuat dalam perjalanan karis dan hidup selanjutnya.
Menurut para ahli (seperti Freeman/1963 maupun Bingham/1968), bakat merupakan suatu potensi atau kemampuan khusus dan lebih dominan yang dimiliki seseorang, yang dapat berkembang melalui proses pelatihan dan pendidikan intensif. Dengan proses ini, bakan akan menjadi sebuah kemampuan dan kecakapan nyata. Seseorang akan lebih baik prestasi dan keahliannya, jika ia mampu melakukan suatu pekerjaan sesuai bakat dan minatnya, ketimbang bidang yang tidak sesuai dengan bakatnya.
Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat seseorang. Kemampuan atau potensi individu yang dibawa sejak lahir, atau faktor bawaan, sangat menentukan pembentukan dan perkembangan bakat seseorang. Tapi faktor ini saja tidak cukup untuk memaksimalkan bakat, karena faktor lingkungan juga berperan mengembangannya.
Dalam Islam disebutkan, “Setiap bayi lahir ke dunia dalam keadaan suci bersih,” tanpa dosa dan tanpa kecakapan yang khusus. Kemudian peran lingkungan keluarga sangat menentukan pengembangannya. Lingkungan dapat berfungsi sebagai stimulus bagi berkembangnya bakat, dan bisa juga sebaliknya, menjadi penghambat perkembangan bakat.
Bakat juga tak akan berkembang optimal, apabila tidak dibarengi dengan minat yang cukup tinggi terhadap bidang yang sesuai dengan bakat tersebut. Contohnya, seseorang yang memiliki bakat cukup tinggi sebagai ahli menggambar, tapi ia tak berminat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan menggambar, maka bakatnya itu tak akan berkembang maksimal.
Motivasi diri untuk mengekpresikan bakat, juga mempengaruhi usaha pengembangan bakat. Motivasi seseorang sangat erat kaitannya dengan usaha dan kerja keras untuk mencapai tujuan hidupnya. Selain itu, bakat seseorang juga akan berkembang pesat apabila ia memiliki nilai hidup yang berarti atau positif terhadap pengembangan bakatnya itu.
Faktor kepribadian sangat penting bagi perkembangan bakat seseorang. Seperti konsep diri, rasa percaya diri, keuletan, keteguhan dan kesabaran dalam berusaha, kesediaan untuk menerima kritik maupun saran untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi.
Bakat akan berkembang dengan baik apabila sudah mendekati atau menginjak masa peka atau kematangannya. Tapi, tak ada kepastian kapan hitungan masa kematangan akan datang, masing-masing individu memiliki masa kematangan yang berbeda-beda.

 

Meredakan Amarah

Ardiman Adami M.Psi
Magister Profesi Psikologi Universitas Islam Indonesia, Mantan Ketua Umum Imamupsi Komisariat Universitas Islam Indonesia
Alkisah dalam sebuah peperangan, Ali ibn Abu Thalib RA sukses mengalahkan lawannya. Ia berhasil memukul pedang sang lawan hingga terlempar, dan menjungkalkan tubuh lawannya itu hingga tak berkutik di tanah. Lalu, Ali menghunuskan ujung pedangnya di leher sang lawan, menunggu untuk menusukkannya.
Namun tiba-tiba, lawan yang tergeletak itu meludahi wajah Ali. Ali sangat kaget, seraya lekas mengusap lelehan air ludah lawannya itu dari wajahnya. Ali terdiam sesaat, kemudian menarik pedangnya dan beranjak pergi meninggalkan lawan yang masih terlentang di atas tanah.
Seseorang lalu bertanya heran mengapa Ali malah pergi dan bukan membunuh musuh yang sudah menyerah kemudian meludahinya. Ali menjawab, “Aku diludahi, maka timbul amarah dan benci dalam hatiku kepadanya. Karena itu aku meninggalkannya.” Ia melanjutkan, “Betapa marahnya Tuhan kepadaku jika aku membunuhnya karena amarah dan kebencian.”
Sebuah tindakan yang sungguh sulit dimengerti. Ketika musuh sudah tidak berkutik, kemudian menghina dengan meludahi muka, malah diampuni. Alasan Ali sederhana: jihad fî sabîlillâh yang dilakukannya akan ternoda jika membunuh atas dasar nafsu pribadi.
Bolehkah Kita Marah?
Mengubur nafsu amarah atau ingin membalas dendam, butuh perjuangan berat. Karena banyak fakta memperlihatkan, nafsu membunuh dan mengumbar dendam tak dapat terelakkan. Apalagi ketika emosi sudah mencapai ubun-ubun, ditambah jika ada kesempatan atau pihak yang memprovokasi.
Ketika marah, orang yang berhati lembut bisa lekas berubah sangar. Yang pengasih pun bisa beralih menjadi brutal. Begitulah. Manusia memang gudangnya khilaf dan dosa. Mata sempurna, tapi penglihatan tertutup.
Kemarahan, kalau tidak dikelola dengan hati-hati, cenderung akan membuat kitakebablasan. Karena itu, kemarahan sangat tak patut untuk diumbar. Bolehlah kita marah tapi hanya sewajarnya.
Aristoteles pernah mengungkapkan, “Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah.”
Sementara ini kita sering mendengar asumsi keliru masyarakat yang menyebutkan, melampiaskan amarah adalah salah satu cara mengatasi amarah. Dengan melampiaskan amarah, katanya, akan dapat membuat orang yang tengah marah menjadi lebih baik dan nyaman perasaannya.
Padahal sesungguhnya tidak demikian. Sebab, banyak penelitian justru membuktikan bahwa melampiaskan kemarahan sangat sedikit, bahkan tak ada hubungannya dengan upaya meredakan amarah. Meski dengan melampiaskan amarah, orang yang mengalaminya akan merasa terpuaskan.
Daniel Goleman, dalam Emotional Intelligence, mengungkap hasil penelitian ahli psikologi Diane Tice dari Case Western Research University, yang menemukan bahwa melampiaskan amarah merupakan salah satu cara terburuk untuk meredakan amarah.
Ledakan amarah, biasanya justru akan memompa perangsangan otak emosional. Akibatnya, orang justru akan menjadi lebih marah dan kehilangan rasionalitas, bukan berkurang, jika amarahnya dilampiaskan.
Dari cerita banyak orang mengenai saat-saat mereka melampiaskan amarah kepada seseorang, tindakan itu terbukti justru memperpanjang suasana marah. Bukan menghentikannya.
Yang jauh lebih efektif untuk dilakukan saat seseorang diradang amarah, adalah terlebih dahulu menenangkan diri. Kemudian, dengan cara yang lebih konstruktif dan terarah, ia harus menghadapi orang yang bersangkutan penyebab kemarahan, dengan kepala dingin dan hati tulus untuk menyelesaikan masalah.
Dalam sebuah artikel berjudul “Forgiveness”, yang diterbitkan Healing Current Magazine edisi September-Oktober 1996, disebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa, akan menimbulkan emosi negatif dalam diri yang mengalaminya, dan merusak keseimbangan emosional, bahkan kesehatan jasmani mereka.
Lebih lanjut dipaparkan, ada kecenderungan manusia dapat menyadari bahwa kemarahan yang meradang mereka, benar-benar mengganggu diri mereka. Kesadaran ini timbul beberapa saat setelah mereka menyadari kemarahannya. Biasanya, mereka cenderung berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Langkah yang diambil adalah dengan memaafkan.
Disebutkan pula, banyak orang terbukti tak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan. Mereka cenderung lebih suka memaafkan diri sendiri dan orang lain.
Saatnya Menahan Amarah
Amarah terkait erat dengan sikap atau perilaku yang cenderung mengarah pada penolakan atau permusuhan kepada orang lain. Pintu utamanya adalah kontrol diri yang buruk, lalu mendatangkan sakit hati yang berat.
Semua itu berjalan sesuai naluri manusia untuk mempertahankan diri (gharîzah baqâ`). Dan naluri ini pada dasarnya dimiliki setiap manusia normal dan membutuhkan pemuasan. Walau jika tidak terpenuhi tak akan membawa kematian, namun kondisi ini akan menimbulkan kegelisahan. Karenanya, Islam memberi arahan yang sangat jelas untuk menyelesaikan masalah-masalah manusia, termasuk amarah.
Dalam telaah psikologi Islam, Dr. Abdul Mujib mengungkapkan bahwa amarah termasuk salah satu bentuk gangguan kepribadian (personality disorder), yang dalam terminologi Islam klasik disebut sebagai akhlak tercela (akhlâq madzmûmah).
Sebagaimana gangguan kepribadian lainnya, amarah dapat mengganggu realisasi dan aktualisasi diri seseorang. Itu sebabnya seorang pemarah tak memiliki pertimbangan pikiran yang sehat. Ia juga tak memiliki kontrol diri yang baik dalam ucapan maupun perbuatan, bahkan ia cenderung berpikir negatif terhadap maksud baik orang lain.
Tidak berlebihan apabila Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak Adam. Ingatlah bahwa sebaik-baik orang adalah yang mampu melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan. Dan seburuk-buruknya orang adalah yang mempercepat amarah dan melambatkan ridha.” (HR. Ahmad)
Menurut al-Ghazali dalam karya mahsyurnya, Ihyâ` Ulûm ad-Dîn, amarah (ghadhab) disebabkan oleh dominasi unsur api atau panas (al-harârah) yang melumpuhkan peran unsur kelembaban atau basah (ar-ruthubah) dalam diri manusia. Karena itu, pengobatan gangguan ini bukanlah dilawan dengan kemarahan, tapi dengan kelembutan dan nasihat-nasihat yang baik.
Rasulullah berwasiat, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan itu diciptakan dari api. Sesungguhnya api itu dapat dipadamkan dengan air. Maka barangsiapa yang marah hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Daud)
Hadits ini selain menunjukkan sumber amarah, juga terapinya yaitu wudhu. Karena air yang dibasuhkan pada bagian-bagian tubuh, dapat mendinginkan dan menghilangkan ketegangan urat syaraf. Selain itu, wudhu mengingatkan psikis manusia agar berzikir kepada Allah. Sebab zikir dapat menyembuhkan penyakit batin.
Kalau kita telusuri sejarah Rasulullah (sîrah), kita akan tahu bahwa menahan amarah adalah salah satu teladan yang beliau ajarkan. Masih ingat kisah ketika Rasulullah dilempari kotoran hewan oleh seorang Quraisy? Beliau tetap sabar dan berdoa semoga Allah membukakan hati orang tersebut.
Benar saja. Suatu hari Rasulullah mendengar orang itu sakit. Dengan kebesaran hati, beliau menjenguk orang itu dan menghiburnya. Akhirnya, orang itu pun masuk Islam.
Rasulullah memberi teladan tak ada satu kata buruk pun keluar dari mulut beliau atas ulah orang-orang kampung Thaif yang mengusir dan melempari beliau dengan batu hingga berdarah. Jika Rasulullah tak pernah marah, bahkan selalu bersikap lembut dan memaafkan orang yang menghinanya, bagaimana mungkin orang yang mengaku mencintai beliau berani melakukan hal sebaliknya?
Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Dan bersegerahlah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Qs. Âli ‘Imrân [3]: 133-134)
Nah, mampukah kita mengamalkannya tanpa dengki, dendam, sakit hati, dan kemarahan? “Bukanlah disebut kuat orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika ia sedang marah,” begitu sabda Nabi SAW.

 

 

 

Manisnya Kejujuran

Ustadz Yusuf Mansur
Ketika yang lain bicara bahwa kejujuran itu pahit. Tuhan berkata, Tidak! Kejujuran selalu manis, hanya perlu kesabaran sebagai pupuknya.
Suatu hari, Parni mencoba membujuk suaminya, Riyadi, untuk terus terang kepada pimpinan di kantornya, “Sudah Mas, lebih baik Mas terus terang saja ke bos Mas. Sebelum semuanya terlambat. Biasanya sih kejadian nanti tidak seburuk yang kita bayangkan.”
Parni tak tega melihat suaminya gelisah. Ia meminta sang suami berterus terang telah melakukan pencurian di kantor baru-baru ini.
Sudah 15 tahun Riyadi bekerja sebagai karyawan di bagian pergudangan di kantornya. Nyaris tiada cacat berarti yang ia lakukan. Tapi suatu ketika, Agus, anak tertua Riyadi, sudah lebih dari empat bulan menunggak bayaran sekolah. Kalau tak lekas dibayar, Agus akan dikeluarkan dari sekolah.
Meski sudah kerja belasan tahun, tapi status maupun penghasilan Riyadi selalu tak berimbang dengan kebutuhan sehari-hari. Ia dan keluarga ‘cukup berhasil’ hidup hemat, selalu berusaha meredam keinginan dan nafsu.
20 tahun kehidupan rumahtangga pun ia lalui bersama istri dengan harmonis, jauh dari kegelisahan. Mereka menerima keadaan dengan lapang dada, nrimo.
Tapi, Riyadi juga masih manusia. Sesekali ia juga punya letupan perasaan tidaknerima. Hatinya suka berkata, bahwa kehidupannya telah dirampok oleh negara. Penghasilannya dirampok oleh begitu tingginya harga-harga kebutuhan hidup yang pokok.
Sering juga ia putus asa. Utamanya ketika tak berdaya membelikan anaknya obat demam menyembuhkan sakit panas yang tak turun-turun hingga tiga atau empat hari. Atau, ketika melihat anaknya yang sering termangu memandangi kawan-kawannya yang sedang jajan.
Ia juga hampir mengorbankan kejujurannya. Berkali-kali ia hampir terpedaya ucapan yang terlanjur memasyarakat: Untuk apa jujur? Jujur itu pahit! Jujur itu miskin! Jujur itu berarti hidup susah! Orang lain juga curang kok! Orang lain juga culas kok! Jadi buat apa kita jujur!
Iman dan kejujuran bisa juga menghilang dari diri Riyadi. Apalagi kalau diingat, ia telah bekerja tanpa penghargaan yang memadai. Tapi tak jarang ia segera ingat, semuanya adalah keputusan Allah. Dan Allah masih memberinya harapan hidup di negeri akhirat.
Kalaulah ia miskin di dunia ini, ia masih berharap kelak akan hidup bahagia di negeri kemudian. Begitu yang sering ia dengar dari para ustadz, bahwa keberadaan akhirat adalah sebagai penyempurna segala kejadian yang dianggap oleh manusia sebagai ketidakadilan.
***
Ya, Riyadi juga masih manusia. Kali ini ia begitu tersudut oleh kenyataan bahwa ia hidup di negeri yang manusianya sudah nafsi-nafsi, sendiri-sendiri. Ia juga harus menerima kenyataan, bahwa hidup enak di negeri ini saat ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.
Ia juga putus asa karena pendidikan yang digelar oleh begitu banyak lembaga pendidikan di Tanah Air, hampir semuanya omong kosong. Kehadiran mereka bukan untuk mencerdaskan bangsa atau membantu sesama. Pendidikan kini sudah menjadi komoditas bisnis yang tak menaruh hati untuk kehadiran orang-orang seperti Riyadi.
‘Keputusasaan’ dan kebutuhan Riyadi ini untuk membayar sekolah anaknya yang sudah lima bulan belum terbayarkan, akhirnya menyeret dia untuk melakukan satu dua perbuatan nekad. Ia curi satu dua barang dari gudang di kantornya. Tapi ia tak mencuri lebih, meski punya kesempatan untuk itu. Ia hanya mencuri seukuran kebutuhannya.
Perusahaan Riyadi bergerak di bidang jual beli barang-barang elektronik. Dari radio kecil, hingga televise ukuran setengah kamarnya diproduksi dan dijual perusahaannya. Tapi Riyadi hanya mengambil mini compo untuk ia uangkan.
Ketika dilakukan pemeriksaan rutin oleh kantornya, Riyadi luput. Ia tak masuk daftar orang-orang yang dicurigai. Lantaran tak ada orang yang meragukan kejujuran Riyadi. Termasuk atasannya.
Masalah pencurian ini akhirnya di”peti-es”kan. Lagi pula, barang yang hilang itu tidak besar, menurut bosnya. Kejadian tersebut hanya dijadikan pelajaran agar kewaspadaan ditingkatkan lingkungan kantornya.
Sang waktu pun berjalan sebagaimana biasa. Masalah bayaran sekolah Agus, anaknya, terbayarkan oleh hasil jual barang curian. Riyadi bernafas lega. Satu masalah selesai. Paling tidak ia sudah tidak diuber-uber tagihan SPP sekolah anaknya.
Tapi kemudian hadir masalah lain. Bahkan kali ini lebih menyiksa perasaannya. Riyadi terus diburu perasaan bersalah!
Seperti umumnya rakyat kecil, kalau bersalah itu akan terus dianggap sebagai kesalahan. Kehidupannya pun menjadi tidak tenang, dan terus gelisah. Berbeda sekali dengan kebanyakan orang terpandang, terhormat, atau pandai di negeri ini. Bila berbuat kesalahan, lebih sering menganggapnya sebagai ‘kesalahan manusiawi’, atau ‘kesalahan yang tidak terlalu prinsip’. Mereka pun bisa tenang. Bahkan tetap tenang untuk terus menerus melakukan kesalahan-kesalahan baru, dan berusaha menutupinya dengan ‘baju kewenangan’, atau ‘baju kekuasan dan kepintarannya’.
Ya, Riyadi hanya ‘orang kecil’ yang berjiwa besar. Ia bersalah dan merasa bersalah. Kegelisahan dan ketidaktenangan itu semakin menjadi-jadi. Ia khawatir, Allah sangat marah kepadanya dan akan menghadirkan kesulitan-kesulitan yang lebih besar lagi kepadanya.
Ia sangat khawatir ajalnya akan sampai, sementara ia sedang melakukan kesalahan yang menurutnya sangat fatal. Ia merasa upayanya untuk berjalan lurus akan sia-sia. Di usianya yang akan memasuki paruh baya, ia malah menghanguskan kebanggaan diri yang dulunya susah, tapi mampu tak memakan harta yang haram.
Dirinya memang susah, tapi ia dan keluarga tak pernah menyusahkan orang lain. Dirinya bodoh, tapi tak pernah membodohi orang lain.
Setelah mencuri, semua prinsip ini terasa terlanggar. Ia seakan melihat Allah sedang marah kepadanya, dan setan justru tengah menertawai dirinya yang dapat goyah oleh kebutuhan hidup. Ketika masalah pencurian diputihkan oleh pihak kantornya, ia justru melihatnya sebagai kemarahan Allah yang tertunda.
Sejak itu, hari-hari ia lalui dengan stres. Mukanya selalu kusut. Hatinya sebentar-bentar dag-dig-dug. Engga boleh mendengar kucing jatuh dari meja atau ketukan pintu dari para tetangga, hati dan batinnya terus tersiksa. Ia merasa sedang duduk di atas kursi mewah yang berduri.
Dalam situasi inilah sang istri mencoba menyarani untuk berterus terang kepada pihak kantor. Kalau memang dipecat, ya sudahlah dipecat. Siapa tahu akan ada kehidupan yang lebih baik. Syukur-syukur jika bisa dimaafkan.
Semua keluarganya mendukung nasihat sang istri ini. Tak terkecuali Agus, anaknya. Ia bahkan bilang, “Kalo tau Bapak membayar SPP dari uang haram,mendingan Agus berhenti sekolah!”
Agus khawatir, kalau ia disekolahkan lewat uang haram, maka kepintarannya kelak akan menjadi bumerang buat diri dan keluarganya sendiri. Bila melanjutkan sekolah dengan uang haram, ia khawatir akan dekat dengan hal-hal yang Allah haramkan. Luar biasa!
***
Mantap sudah niat Riyadi untuk segera berterus terang kepada pihak kantornya. Apapun yang akan terjadi terjadilah, kata batinnya. Ia hanya berharap Allah mau mengampuni. Itu saja!
Ia tak berharap bos akan mengagumi keberaniannya berterus terang. Ia justru siap dengan segala risiko, sepahit apapun. Daripada nanti ditunda hukumannya di akhirat, begitu tekadnya. Riyadi juga yakin, jika kebusukan lebih lama disimpan, maka baunya akan lebih busuk lagi.
Akhirnya, begitu Riyadi bicara keadaan yang sebenarnya kepada pihak kantor, ia pun dipecat! Alasan si bos, ia tidak pernah menolerir satu kejahatan pun terjadi di kantornya.
Sampai di sini, tidak ada happy ending. Riyadi yang selama ini digaji murah, tak diberi tunjang kesehatan apalagi keperluan-keperluan mendadak, sudah 15 tahun menjaga kejujuran dan loyalitas kepada perusahan, tetap harus menelan ludah pahit. Dipecat!
Riyadi sadar, ia hanya orang kecil. Ketiadaannya tak akan berpengaruh banyak bagi kelancaran gerak perusahaan. Untung sebelumnya ia sudah memersiapkan diri untuk tidak membayangkan si bos akan mengagumi kejujurannya. Jadi, Riyadi tak perlu sakit hati.
Tapi Allah tidak buta! Ketika Dia melihat ‘perjuangan’ Riyadi yang luar biasa ini, ditambah keikhlasannya menjalani kehidupan, saat itu pula keputusan terbaik-Nya Dia turunkan untuk Riyadi.
Allah kemudian menunjukkan kebenaran perkataan-Nya, bahwa ujung kehidupan antara yang baik dan yang jahat itu berbeda. Riwayat kehidupan di kemudian hari antara orang yang menjaga iman dengan yang menukarnya dengan dunia tak akan sama. Allah pun menunjukkan kebesaran-Nya pada keluarga Riyadi.
Dengan modal pesangon yang hanya dua juta rupiah, Riyadi membuka bengkel motor. Rupanya inilah ‘jalan hadiah’ dari Allah. Bengkelnya maju pesat, lebih maju dari yang ia bayangkan.
Dulu, ia sekadar berprinsip, jangan sampai uang pesangon habis sekadar untuk makan. Kejujuran Riyadi membuat para pemilik kliennya percaya kepada Riyadi untuk mengurusi kendaraannya yang rusak.
Sampai hari ini, bengkel milik Riyadi memang tetap ‘kecil’. Tapi, antrean pelanggan yang minta dilayani sangat banyak. Bahkan mereka rela masuk daftarwaiting list, menunggu pelayanan.
Bengkel Riyadi berada di pertigaan jalan antara Ketapang dan Gondrong, di wilayah Tangerang, Banten. Anaknya, Agus, kini juga sudah mengelola bengkel sendiri di bilangan Ciledug, Tangerang. Brand yang mereka pakai adalah “Berkah Motor”.
Bagi Riyadi dan keluarga, kejujuran berarti keberkahan. Dan ketidakjujuran berarti akan menghilangkan keberkahan. Kaya tapi tidak berkah, sama saja dengan kekayaan yang sia-sia, kekayaan yang tak bisa dinikmati.
Ada ujung kehidupan yang manis, yang akan Allah hadiahkan untuk semua orang yang bisa memelihara dirinya dan menghargai Tuhannya. Sementara, ada malapetaka yang besar dan ujung kehidupan yang pahit, untuk siapa saja yang tidak memelihara diri dan melupakan Tuhannya. Sang waktu yang akan berbicara.